9/28/2015

Satria FU 150 ban kecil



ADVERTISEMENT
Met pagi
Satria FU di Indonesia adalah motor hyper underbone paling laris di atas Jupiter MX dan CS1 (discontinue). Motor ini mudah dioprek dengan biaya minim juga merupakan primadona ABG yang bertahan lama. Motor ini sudah bergati 3x batok headlamp, dan juga tentunya perbedaan beberapa spek mesin.
Nah, modifikasi tampilan pada motor ini umumnya adalah ban kecil, velg jari-jari, dan juga body trondol. Modifikasi seperti itu pasti kita temui di mana’pun berada. Jadi istilahnya mainstream, tentunya Satria FU standart adalah barang langka seperti Ninja FI sandart wkwkwk.
Lalu bagaimana impressi riding denga motor Satria yang dimodifikasi velg jari-jari, ban ukuran kecil, cakram custom abal-abal, open filter. Pada jarak Surabaya-Sidoarjo kemarin, ane dan sang pemilik yang merupakan teman sekerja ane mencoba nih motor pas ke Gedangan. Karena penasaran bagaimana rasanya mengemudikan motor yang katanya alay paling suka.
Pertama kali duduk di atas motor, sudah terasa kesan nunduk. Apalagi tinggi bro ndess yang 173cm membuat motor ini seakan kecil tidak berbanding dengan tinggi bro ndess. Jok yang dipapas membuat kenyamanan berkurang dan suka melorot.hehehe, tangan menahan beban tubuh jadi jika sudah lama dan bermaet ria, akan terasa capeknya luar biasa.
depan
depan
belakang
belakang
Apalagi pas buat boncengan dengan jarak misal kayak surabaya-sidoarjo, menyiksa sekali. Bro ndess saat mengemudikannya’pun gampang merasa pegal, dan capek. Motor ini buat jalan lurus memang lebih enak. Ingat, jalan lurus doang. Itu’pun harus mulus, makanya anak-anak balap drag resmi maupun liar suka pakai nih ban buat balap. La enak buat lurus aja.
Saat nikung paling hati-hati agar tak tergelincir, karena bro ndess juga posisi berboncengan dengan sang pemilik yang jadi boncenger dan ane yang riding. Jalan gak rata berasa banget, getarannya. Apalagi saat polisi tidur, harus pelan-pelan sekali agar velg tidak terhantam dan tidak jadi peyang.
kaki-kaki depan
kaki-kaki depan
Kemudian pada sektor rem depan yang dipakai. Motor teman kerja ane ini rem’nya diganti dengan TDR custom cakram kecil, yang di mana pemasangannya tidak presisi banget. Saat menekan rem bakal terasa guncangan karena pemasangan terlalu keluar/ diujung sehingga kampas rem tidak mampu menekan sempurna.
Rem belakang masih standart. Namun, karena bro ndess terbiasa memakai rem depan jadinya kagok kalau mau ngerem. La rem depan tidak sempurna banget. Berasa njendul-njendul. Buat macet tentunya berbahaya, la umumnya kalo macet kan suka mendadak kalau ngerem. La kalau belakang doang ya masih ngesot-ngesot.
Suara khas open filter memang enak, sering ane geber pelan-pelan dan mengurut gas sehingga raungan mesinnya begitu halus dan agak ngebas pada bagian karbu yang terbuka ini. Menurut sang pemilik, dia sering gonta-ganti karbu karena efek dari open filter merusak karbu tersebut. Woalah, tapi kok ya diteruske wkwkwkw. Katanya sensasi suaranya tak tergantikan.
kemudi
kemudi
Memang nih motor dengan modifikasi kayak di atas cuma cocok di jalan lurus, itupun pelan-pelan. Buat touring tentu menyiksa boncenger dan rider. Hanya cocok buat jalan jarak dekat dan halus, gak cocok jarak jauh. Apalagi tentunya Pak Kumis alias Pak Polantas pasti akan memburu motor ini di jalan buat ditilang. Ane riding’pun mesti lewat jalur “dalam” biar gak ditangkap pak kumis, sepedahe orang je. Hehehe.
Yups, begitulah impressi Satria FU modifikasi “mainstream” seperti velg jari-jari, cakram custom abal-abal, ban kecil, open filter yang telah di coba dengan jarak Surabaya (Demak) sampai Sidoarjo (Gedangan). Kesimpulannya nih modif tidak rekomendasi! Hanya menyiksa sang rider dan boncenger saja.
Motor ini jarang diisi premium oleh pemilik, dia mengatakan kalau sering mengisi pertama pada motornya. Wew, makanya walau diopen filter tapi nih motor masih mantep, la minumnya pertamax selalu sejak awal dengan diselingi premium beberapa kali. Hebat deh buat perawatannya. Hehehe.
Dikirim dari WordPress untuk BlackBerry.

No comments:

Post a Comment